Kamiparho.org-Jakarta- ILO Jakarta atau Organisasi Buruh Internasional hari ini gelar pertemuan ke dua untuk membahas lebih lanjut proyek di sektor perikanan, di Gran Melia Hotel Jakarta pada Rabu, (23/03/2022), pukul 9:30 hingga 13:00 WIB
Seperti diketahui, menduduki peringkat kedua setelah Cina, Indonesia menghasilkan 8 persen perikanan tangkap global pada tahun 2018. Sejak awal tahun 2000-an, hasil tangkapan di Indonesia terus meningkat dari kurang dari 4 juta ton per tahun menjadi lebih dari 6,7 juta ton pada tahun
2018.
Pada tahun 2018, nilai total ekspor ikan dan produk perikanan Indonesia adalah sebesar US$ 4,86 miliar, dengan Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang sebagai pembeli
utama. Pada tahun 2019, pemerintah Indonesia memperkirakan bahwa sektor perikanan dan sektor terkait mempekerjakan 1,5 persen dari angkatan kerja, sekitar 3,8 juta pekerja.2
Terdapat lebih dari 60.000 unit pengolahan hasil laut di Indonesia.
Pekerjaan di sektor perikanan merupakan pekerjaan berbahaya. Tantangan hak-hak ketenagakerjaan di sektor perikanan meliputi minimnya rejim pengawasan ketenagakerjaan, buruknya keselamatan dan kesehatan kerja dan kondisi kerja lainnya, regulasi dan kewenangan lembaga pemerintah yang tumpang tindih, kompleksitas yurisdiksi transnasional antara negara bendera, negara pelabuhan, negara pantai, dan negara asal.
Menurut perkiraan global terbaru ILO tentang kerja paksa, sektor perikanan, serta pengolahan hasil laut di darat, merupakan salah satu sektor dengan angka prevalansi kerja paksa paling tinggi. Untuk mendukung keberlanjutan industri perikanan tangkap Indonesia, Kantor ILO Jakarta saat ini melaksanakan tiga proyek yang saling melengkapi yang bertujuan untuk mencapai kerja layak di sektor perikanan dan perlindungan nelayan Indonesia.
Supardi perwakilan KSBSI mengatakan saat ditemui di Kantor KSBSI Cipinang Muara bahwa, ILO Jakarta saat ini sedang melaksanakan tiga proyek disektor perikanan, dengan tujuan untuk mendukung pekerjaan yang layak di sektor perikanan dan pengolahan hasil perikanan pada Kamis, (24/03/2022)
Ada 3 Program ILO yang saat ini sedang dijalankan antara lain, program ter Ship to Shore Rights South East Asia, ada Proyek 8.7 Accelerator Lab Programme (8.7 ACC Lab), serta Proyek Improving Workers’ Rights in Rural Sector with a focus on Women. ketiga program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kerangka dan kebijakan hukum, serta penegakannya dan juga untuk mendukung mitra sosial yang bekerja di sektor perikanan dan pengolahan hasil perikanan.
“Dari ketiga proyek tersebut, harapannya mampu berkolaborasi satu sama yang lainya, kami lebih fokus di program 8.7 ACC Lab, tentunya upaya bersama untuk memastikan hak-hak dasar di tempat kerja, migrasi yang teratur dan aman, mendorong penghapusan kerja paksa dan pekerja anak.” katanya
“dari pertemuan tadi, kami berdiskusi dan konsultasi di sektor perikanan dan pengolahan hasil perikanan.” jelasnya
“Tentunya kami akan mendukung program ini, berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lain untuk membawa kepentingan buruh Indonesia sektor perikanan, bagaimna meningkatkan pengawasan ketenagakerjaan, keselamatan dan kesehatan kerja, dan kondisi kerja bagi nelayan dan pekerja di sektor pengolahan.” tambahnya.
Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain dari Konfederasi, KSBSI, KSPSI, KSPSI ATUC, KSPI, K-Sarbumusi, KSPN. Dari Serikat Pekerja Sektoral: KPI, SBMI, SPPI. Dari Pemerintah: Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia – BP2MI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Dari Asosiasi Pengusaha Indonesia, Dari Lembaga PBB:IOM Indonesia, dan UNDP. Dari Lembaga Donor, Royal Norwegian Embassy di Jakarta dan Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD), Departemen Ketenagakerjaan Amerika Serikat – USDOL, dan Uni Eropa (UE)
(RED/HTS/MKJ)




