KAMIPARHO.ORG, BITUNG – Supardi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Makanan Minuman Pariwisata Restoran Hotel dan Tembakau (DPP FSB KAMIPARHO) mengatakan rangkain kegiatan konsolidasi ke Bitung Sulawesi Utara hari ini, bertujuan membangun kolaborasi dan sinergi dengan pengurus cabang sekaligus dengan para stakeholder khususnya sektor perikanan.
“Dimulai dengan melakukan kujungan ke PT Multi Nabati Sulawesi (PT MNS) anak usaha Wilmar Group, hal ini terkait dengan perkenalan dan silaturahmi dengan Bapak Samuel selaku HRD yang baru, kami berdiskusi tentang kondisi ketenagakerjaan yang ada di PT MNS.” kata Supardi saat dihubungi melalui panggilan telepon, Senin (20/03/2023).
Supardi juga mendorong manajemen PT MNS untuk meningkatkan kolaborasi dan sinergi dengan pengurus Komisariat FSB KAMIPARHO PT MNS.
“Diantaranya, kami membahas terkait adanya kenaikan golongan hampir 200 karyawan, sejarah buat PT MNS, dan itu sudah terealisasi.” jelasnya.

Kunjungan dilanjutkan dengan menyerahkan pernyataan bersama antara FSB KAMIPARHO dengan Asosiasi Perikanan Pole and Line dan Hand Line Indonesia (AP2HI) tentang perlindungan buruh perempuan di sektor pengolahan hasil laut, khususnya di wilayah Kota Bitung, provinsi Sulawesi Utara yang tempo hari sudah ditandatangani.
“Kami menyerahkan kepada Pemprov Kota Bitung, yang menemui Sekda Dua, Bapak Haji Sikamang, beliau menyambut baik, kami juga merencanakan pertemuan antara FSB KAMIPARHO dan ILO dengan Bapak Walikota Bitung, pada jum’at mendatang.” ungkapnya.
Pada sore harinya, Supardi dan pengurus cabang melakukan kunjungan ke PT Karvina Prima Makmur, didampingi Bapak Purnasahat Singalinging selaku perwakilan ILO Jakarta.
“Menggali persoalan yang ada di sektor perikanan khususnya di kota Bitung, pengolahan ikan tuna, disitu banyak informasi yang kami dapatkan, menjadi pekerjaan rumah bersama ketika kebijakan moratorium perikanan tangkap era Ibu Susi membuat kendala bagi keberlangsungan usaha pengolahan ikan, berimbas kurangnya pasokan ikan di kota Bitung.” bebernya.
Supardi menambahkan bahwa, Hal itu menyebabkan perusahaan pengolahan ikan menjadi banyak yang tidak beroperasi, ekspor ikan menjadi turun sangat tajam. (RED/HTS/MK)




