Kamiparho.org-Jakarta, Dalam rangka menjaring kader jurnalis kepada anggotanya, Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) melalui Departemen Media KSBSI gelar Workshop Media, dengan tema Menjaring Jurnalis Media KSBSI “Peranan Media Buruh di Labour 20 dan Revolusi Industri 4,0”. pada Sabtu, (19/02/2022)
Menjawab tantangan perkembangan jaman yang semakin serba digital, menuntut kaum Buruh untuk bisa menulis, mengedukasi, mengkampanyekan, dan mengambil peran dalam media sosial perburuhan.
Hadir dalam agenda tersebut M Hori selaku Korwil DKI Jakarta mewakili DEN KSBSI, Nara Sumber Hugeng Widodo selaku Direktur Media KSBSI, Andreas Hutagalung Jurnalis KSBSI, dan diikuti oleh peserta dari perwakilan 10 Federasi yang berafiliasi ke KSBSI.
Tujuan diadakan workshop ini adalah mengedukasi, mengembangkan, serta membangun dunia jurnalistik menuju era revolusi industri 4.0, kaitannya dalam rangka membangkitkan niat menulis di media perburuhan serta diharapkan dapat menjaring generasi penerus jurnalistik perburuhan.
“Kawan-kawan kelak yang akan menggantikan generasi Media KSBSI, ruang kebebasan dalam menulis, memperjuangkan, memajukan Media KSBSI ini.” kata Hugeng dalam sambutannya.
“Menjadi seorang jurnalis KSBSI hanya dibutuhkan niat, tekad, militansi, serta semangat yang kuat untuk memajukan Serikat buruh, fasilitas sudah disediakan, apalagi yang harus ditunggu, kita harus maju ke depan. ” Jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, M Hori selaku Korwil DKI Jakarta mewakili DEN KSBSI dalam sambutan sekaligus membuka acara Workshop ini, mengatakan bahwa “peran Media sangat penting dalam sebuah organisasi Serikat Buruh, kita tau bahwa isu perburuhan yang saat ini lagi santer, yakni tekriat JHT. Disitu Media harus bisa memainkan perannya, memberitakan perjuangan atau bahkan meluruskan berita berita yang menyesatkan.” katanya.
Masih dalam kesempatan yang sama juga, Andreas selaku pemateri menjelaskan tentang arti pentingnya menjadi penulis buat diri sendiri maupun organisasi, Ia mengutip dari Sastrawan Pramoedya Ananta Toer bahwa, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kawan-kawan harus bisa memulai dengan manusia- manusia jurnalis.
Andreas juga mempertanyakan kepada peserta , “kalian berani tidak seh menulis, karena perjuangan itu adalah kata-kata” Mengutip dari WS Rendra.
“Kita bicara pengabdian, tanggung jawab terhadap Federasi dan KSBSI, ini adalah proses pengkaderan, kalianlah yang akan melanjutkan perjuangan ini, saya ingin kawan kawan harus fokus dalam menulis perjuangan. ” harapnya.
(RED/HTS/MKJ)




