KAMIPARHO.ORG, JAKARTA – Sulistri, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Buruh Makanan Minuman Pariwisata Restoran Hotel dan Tembakau (DPP FSB KAMIPRAHO) menegaskan bahwa budaya patriarki masih tumbuh subur di negara Indonesia, Hal itu sangat berpengaruh terhadap budaya kerja, untuk itu pemahaman pekerja/buruh termasuk buruh perempuan terhadap kesetaraan gender harus ditingkatkan.
Budaya patriarki merupakan budaya dimana laki-laki mempunyai kedudukan lebih tinggi dari perempuan. Dalam budaya ini, ada perbedaan yang jelas mengenai tugas dan peranan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam keluarga.
Namun demikian, kembali ke persepsi atau kesadaran masing-masing individu dalam menilai soal ketimpangan gender, kesetaraan gender dan non diskriminasi. Meningkatkan pemahaman tentang kesetaraan gender harus dimulai dari sekarang.
“Bahwa perempuan pekerjaan didunia kerja tidak jauh dari pekerjaan yang ada di keluarga, terkait pekerja perempuan di perkebunana sawit juga begitu, pekerjaan pemupukan dan penyemprotan masih didominasi perempuan. Belum lagi terkait status pekerja perempuan, lebih ke kontrak maupun harian.” kata Sulistri saat menjadi narasumber di acara Webinar Dialog Sosial Tentang Kesetaraan Gender Untuk Kerja Layak di Pedesaan dalam rangka peringatan IWD 2024 yang diinisiasi oleh ILO pada, Selasa (27/02/2024).
Begitupun dipengolahan hasil perikanan atau tangkapan laut. Pekerja perempuan di sektor tersebut masih banyak yang berstatus pekerja harian maupun borongan. Dengan alasan perusahaan bahwa pasokan ikan kadang ada kadang tidak ada.
“Hal itu menyebabkan minimnya perlindungan jaminan sosial terhadap mereka, upah berkurang, jaminan sosialnya minim akibat statusnya yang tidak karyawan permanen sehingga program BPJS Ketenagakerjaan tidak tercover semuanya.” jelas Sulistri.
Kemudian ada beberapa perusahaan perikanan yang memberikan tunjangan untuk perumahan, namun hanya diberikan pada laki-laki, perempuan tidak.
“Di serikat buruh juga masih didominasi laki-laki, ketika melakukan perundingan perjanjian dan kepengurusan serikat buruh.” ungkapnya.
Sulistri, menegaskan bahwa kembali lagi bagaimana persepsi individu dalam melihat soal ketimpangan gender, kesetaraan gender dan non diskriminasi. Ia mengajak para stakeholder ketenagakerjaan untuk bersama-sama berkomitmen mencegah kekerasan dan pelecehan serta mewujudkan kesetaraan gender. Say No to sexual haressment and diskrimination at work place.
Sebagai informasi, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, menyediakan lapangan kerja bagi hampir sepertiga angkatan kerja. Namun, sekitar 39,45 juta pekerja, terutama di daerah pedesaan dan sebagian besar perempuan, menghadapi tantangan seperti terbatasnya akses terhadap perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja, sumber daya produktif, dan pemberdayaan pekerja perempuan.
Dalam menyambut #IWD2024, Katadata dan Magdalene bersama International Labour Organization (ILO) melalui Peningkatan Hak-Hak Pekerja di Sektor Pedesaan Indo-Pasifik dengan Fokus pada Perempuan mengadakan dialog Webinar yang membahas tantangan, upaya dan peluang untuk mendorong kesetaraan gender sebagai kunci menuju pembangunan berkelanjutan di pedesaan.
Lalu apa saja yang telah dan dapat dilakukan oleh pemerintah, pengusaha dan serikat pekerja untuk melindungi pekerja perempuan di sektor pertanian, khususnya industri pengolahan kelapa sawit dan perikanan.
Narasumber: Yuli Adiratna, Direktur Pengawasan dan Norma Ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan. Sumarjono Saragih, Kepala Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Janti Djuari, Ketua Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI). Lusiani Julia, Staf Program, ILO Jakarta. Sulistri, Sekjen FSB KAMIPARHO. Moderator: Devi Asmarani, Editor in Chief, Magdalene. (RED/Handi)




