Kamis, September 17, 2026

Di Acara Festival Demokrasi Energi, KSBSI Mendorong Terbentuknya LKS Tripartit Plus Tentang Perubahan Iklim

KAMIPARHO.ORG, JAKARTA – Markus Sidauruk selaku Deputi Bidang Program Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) mengatakan jika kita ingin bicara demokrasi energi yang berkeadilan hendaklah cara pandang, kita letakan secara global proporsional.

“Yang pertama, melihat belahan bumi utara dan belahan bumi bagian selatan.” kata Markus saat menjadi pembicara di acara Festival Demokrasi Energi di Jakarta, Jum’at (11/11/2022).

“Bumi belahan utara merupakan penyumbang terbesar emisi CO2 terkait perubahan iklim, sedangkan belahan bumi selatan dapat dikategorikan sebagai non penyumbang. Belahan buni Utara didominasi oleh negara -negara maju sedangkan Belahan Bumi Selatan di dominasi oleh negara-negara berkembang dan terbelakang.” jelasnya.

Lebih lanjut, Markus mengatakan demokrasi energi yang berkeadilan harus juga melihat konteks negara, yakni: antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang dan terbelakang; antara perusahaan raksasa dan perusahaan kecil (domestik), antara sikaya dan si miskin, antara generasi saat ini dengan generasi mendatang.

“”Bagaimana konteks keadilannya” kita harus terlebih dahulu melacak sejauh mana kontribusi emisi CO2 di atmosfir yang dihasilkan secara global kemudian secara spesifik di tingkat negara, perusahaan hingga individu.” ungkapnya.

BACA JUGA :   Pekerjaan Layak Merupakan Tonggak Perubahan Iklim dan Transisi yang Adil

Jason Hical [Jason Hickel. Quantifying. Quantifying national responsibility for climate breakdown: an equality-based attribution approach for carbon dioxide emissions in excess of the planetary boundary. Jurnal Lancet Planet Health, Vol. 4, 2020].

Mengukur Tanggung Jawab Negara atas kerusakan iklim dengan menganalisis sejarah emisi dengan menggunakan pendekatan basis data ganda dari tahun 1850 sd 2015. Belahan Bumi Utara menyumbang 92% emisi CO2, sedangkan belahan Bumi Selatan menyumbang emisi CO2 sebesar 8%. Lebih lanjut, beliau juga menyatakan negara-negara maju di belahan bumi utara menyumbang 90%, sedangkan negara-negara di belahan bumi selatan menyumbang 10% dari total emisi CO2 global.

Di tingkat Negara; Amerika Serikat bertanggung jawab atas 40% emisi CO2 global dan Uni Eropa (EU-28) bertanggung jawab atas 29% emisi CO2 Global, di susul Rusia 8%, Jepang 5%, Kanada 3% dan Ukraina 2% (Debitur iklim). Sedangkan Indonesia, India dan China berada dalam batas pangsa adil mereka (kreditur); walaupun Cina akan segera melampaui batas pangsa adil mereka (menjadi debitur).

BACA JUGA :   Sukseskan Presidensi G20 Indonesia 2022, Chair L20 Mendapat Medali Penghargaan

“Di tingkat perusahaan, “korporasi besar” penyumbang emisi, tentunya lebih bertanggung jawab dari pada usaha menengah-kecil penyumbang emisi.” tuturnya.

Masuknya Multinasional Corporasi melalui Penanaman Modal Langsung (FDI) ke negara-negara berkembang telah nyata mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja baru. Namun secara lambat laun, mereka juga mempengaruhi kebijakan-kebijakan Pasar Domestik agar lebih terbuka dan bersaing sempurna.

“Persoalannya, hal ini tentunya tidak mungkin terjadi, dimana perusahaan domestik yang gurem harus bersaing dengan perusahaan raksasa. Situasi ini mengakibatkan terjadinya ketimpangan struktural dalam persaingan ekonomi, dimana sebagian perusahaan domestik kemudian menjadi affiliasinya, rantai pasok (supply chain), atau sub kontrak dari Corporasi tersebut.” bebernya

Ketidakadilan struktural tersebut membawa dampak pada ketidakadilan sosial di tengah masyarakat pada Negara Berkembang dan Terbelakang.

Markus juga mengungkapkan perencanaan penurunan emisi di Indonesia. Harus juga melihat konteks keadilan tersebut, terlebih lagi saat ini Indonesia masih membutuhkan lapangan pekerjaan yang sangat banyak bagi para penganggur.

BACA JUGA :   Memecahkan Krisis Iklim Perlu Dialog Sosial Serta Keterlibatan Masyarakat

Adapun target penurunan emisi berdasarkan Dokument NDC yakni sebesar 26%0 BAU hingga 2020 dan akan mencapai 40% Tahun 2030 dengan bantuan International. Sementara, bantuan Internasional terkait penurunan emisi tak kunjung terwujud.

Terakhir, Markus juga menyampaikan bahwa isu transisi energi ke energi bersih dan terbaharukan belum dibahas perencanaannya oleh kementerian terkait, baik Kementerian ESDM maupun Kementrian Perindustrian, sehingga Kementerian Tenaga Kerja yang membidangi ketenagakerjaan belum memiliki rencana kerja atas persoalan transisi tersebut.

Oleh karena itu, KSBSI mendorong pembentukan sebuah kelembagaan LKS Tripartit Plus untuk menangani berbagai isu perubahan iklim, baik di tingkat nasional hingga tingkat kabupaten/kota. Dimana keanggotaanya terdiri dari Pemerintah, Pengusaha, SB/SP, Akademisi dan LSM (pemerhati lingkungan), sehingga perencanaan dan aksi penurunan emisi serta isu transisi energi dapat segera terwujud dan berkeadilan. (RED/HTS/MKJ)

Tinggalkan Balasan

spot_imgspot_img

Berita Popular

More from author

Sekjen Kemenaker Apresiasi Webinar Layanan Ketenagakerjaan Publik (LKP)

Kamiparho.org-JAKARTA, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, mengapresiasi pelaksanaan rangkaian Webinar tentang Layanan Ketenagakerjaan Publik (LKP). Webinar LKP diadakan atas kerja sama Kemnaker dengan program...

Presiden KSBSI Mendesak Pemerintah Kamboja Terkait Perselisihan Pekerja NagaWorld

Kamiparho.oeg-JAKARTA, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban menyampaikan statmen di sela kunjungan ke Kedutaan Besar Kamboja, terkait penyampaian solidaritas, pernyataan...

KSBSI Sambut Baik Perppu No.2 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja Dengan Catatan!

Kamiparho.org, JAKARTA - Elly Rosita Silaban Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) menyambut baik langkah pemerintah yang telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang...

Ini Proyek ILO Yang Akan Wujudkan Pekerjaan Layak di Industri Perikanan Indonesia

Jakarta- ILO memprakarsai pertemuan konsultasi terkoordinasi sektor perikanan dalam rangka memperkuat dukungannya untuk mewujudkan kondisi kerja yang layak bagi nelayan Indonesia di dalam dan...

Disela Agenda ILC ke-110 Jenewa, Presiden KSBSI Bertemu Dan Berdiskusi Dengan Sekjen ITUC

kamiparho.org-Disela rangkaian agenda International Labour Conference (ILC) ke-110 International Labour Organization (ILO), Elly Rosita Silaban Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) bertemu dan...